Perampokan (Hirabah) dalam tinjauan Hukum Islam

Perampokan (Hirabah) dalam tinjauan Hukum Islam

Menurut buku Tindak Pidana dalam Syariat Islam, hirabah adalah tindak kejahatan yang dilakukan oleh satu kelompok atau seorang bersenjata yang mungkin akan menyerang orang ditempat manapun dan mereka merampas harta korbannya dan apabila korbannya berusaha lari dan mencari atau meminta pertolongan maka mereka akan menggunakan kekerasan.

Sedangkan menurut buku Fiqh Jinayah, hirabah adalah tindak kejahatan yang dilakukan secara terang-terangan dan disertai dengan kekerasan.Secara harfiah hirabah pada umumnya cenderung mendekati pengertian mencuri.

Para fuqaha berbeda pendapat dalam mendefinisikan jarimah perampokan (hirabah) diantaranya :

  1. Pendapat Hanafiyah : perbuatan mengambil harta secara terang-terangan dari orang-orang yang melintasi jalan dengan syarat memiliki kekuatan.
  2. Pendapat Malikiyah : mengambil harta dengan cara penipuan baik menggunakan kekuatan maupun tidak.
  3. Pendapat Syafi’iyyah : mengambil harta / membunuh / menakut-nakuti yang dilakukan dengan senjata di tempat yang jauh dari pertolongan.
  4. Pendapat Hanabilah : mengambil harta orang lain secara terang-terangan di padang pasir menggunakan senjata.
  5. Pendapat Zhahiriyah : orang yang melakukan kekerasan, menakut-nakuti pengguna jalan, dan membuat onar/kerusakan di bumi.

Dasar hukum hirabah adalah firman Allah SWT yaitu :

Artinya : “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah :33)

Perbedaannya adalah mencuri berarti mengambil barang orang lain secara diam-diam, sedangkan hirabah adalah mengambil barang orang lain dengan cara anarkis/terang-terangan

Jadi, hirabah itu adalah suatu tindak kejahatan ataupun pengerusakan dengan menggunakan senjata/alat yang dilakukan oleh manusia secara terang-terangan dimana saja baik dilakukan satu orang ataupun berkelompok tanpa memikirkan siapa korbannya disertai dengan tindak kekerasan.

Pembuktian perampokan bisa dengan sanksi yaitu dua orang saksi laki-laki dan bisa juga dengan pengakuan.[6] Ada beberapa syarat untuk menjatuhi hukuman pada pelaku hirabah yaitu:

  1. Pelaku Hirabah Adalah Orang Mukallaf
  1. Pelaku Hirabah Membawa Senjata
  1. Lokasi Hirabah Jauh Dari Keramaian
  1. Tindakan Hirabah secara terang-terangan

Sanksi perampokan yang ditentukan dalam surat AlQur’an di atas  ada empat macam yaitu dibunuh,  disalib, dipotong tangan dan kakinya secara silang, atau dibuang dari negeri tempat kediamannya.

Hukuman Hirabah dapat hapus karena tobat sebelum berhasil dibekuk dan sebab-sebab yang menghapuskan hukuman pada kasus pencurian yakni:

  1. Terbukti bahwa dua orang saksinya itu dusta dalam persaksiannya,
  2. Pelaku menarik kembali pengakuannya,
  3. Mengembalikan harta yang dicuri sebelum diajukan ke sidang.
  4. Dimilikinya harta yang dicuri dengan sah sebelum diajukan ke pengadilan.

Sumber: https://multiply.co.id/