Posisi Hukum Adat di Indonesia dan dalam perkembangan era globalisasi

Posisi Hukum Adat di Indonesia dan dalam perkembangan era globalisasi

Dalam hal ini terlihat bahwa adat dan hukum adat dalam menghadapi kekuatan yang melanda masyarakat berada sebagai pihak yang bertahan. Hal ini terlihat dalam menghadapi kemajuan global, adat dapat menerima dan berusaha untuk menngikutinya dan memberi konsensi kepada prinsip-prinsip dan filsafat hidup kekuatan global itu.

Dalam memberi konsensi, masing-masing prinsip adat keadaannya sebagai berikut:

  • Kebersamaan harus memberi konsensi kepada individualisme
  • Universalisme adat harus memberi konsensi kepada prinsip sekularisme
  • Idealisme adat harus memberi konsensi kepada prinsip materialisme
  • Prinsip adat tentang manusia berbudi luhur, tahu rasa malu dan penuh tenggang rasa harus memberi konsensi kepada prinsip manusia yang berani berkompetisi mengejar keuntungan dan kemakmuran materill untuk dirinya sendiri tanpa malu.
  • Dsb

Jadi segala konsensi yang diberikan oleh adat untuk penerimaan , penggunaan serta partisipasinya dalam kemajuan yang dibawa oleh kekuatan global akan memberi konsensi yang mendasar dari adat. Dan masyarakat akan berpegang pada prinsip “ engineering” yaitu akan terus maju dalam keadaan yang stabil, baik subjek yang maju itu sendiri yaitu masyarakat maupun kemajuan itu sendiri.

Konsensi adat terhadap arus kebatinan dari kekuatan global dapat dirasakan pengaruhnya terhadap nilai-nilai kita seperti nilai persaudaraan yang semakin menjadi melemah. Sebaliknya semakin kuatnya nilai berpacu untuk kalah-menang di dalam pacuan, hidup menurut kolektivisme semakin melemah dan dikuasai oleh semangat individualisme.

Dalam bidang seni mengatur masyarakat lebih ditekankan kepada mekanisme untuk keteraturan dan ketertiban. Soal nilai keagamaan apa yang menurut adat merupakan suatu ritual yang sakral yang gaib, tempat-tempat ibadah yang suci menjadi berganti pandangan terhadapnya yaitu dilihat sebagai suatu tontonan atau suatu komoditi yang menarik yang dapat dibanggakan untuk pengembangan tourisme.

Dari hari ke hari dari waktu ke waktu tuntutan pendalaman konsensi sampai kepada yang azasi dan adat oleh kekuatan global tersebut tampak semakin jauh. Sebagian besar masyarakat kita terdiri dari orang-orang yang sejak kecilnya di didik dan dibesarkan di dalam kungkungan filsafat hidup adat, prinsip-prinsip dan nilai-nilai kehidupannya masih menghayati dan terikat kepada adat. Penerimaan dan ke ikut sertaan dalam kemajuan yang dibawa kekuatan global tersebut dilakukan dengan jalan merekayasa sesuai dengan cita rasa yang bersumber kepada adat. Itu berarti mengadopsi unsur-unsur kemajuan yang diterima dari luar tersebut.

Hukum adat menurut Van Vollenhoven adalah Keseluruhan aturan tingkah laku positif yang di satu pihak mempunyai sanksi (oleh karena itu disebut “hukum”) dan di pihak lain dalam keadaan tidak dikodifikasikan (oleh karena itu disebut “adat”) . Hal ini dibuktikan dari penelitian tersebut Prof. Mr. Cornelis Van Vollen Hoven membagi Indonesia menjadi 19 lingkungan hukum adat (rechtsringen). Satu daerah yang garis-garis besar, corak dan sifat hukum adatnya seragam disebutnya sebagai rechtskring. Setiap lingkungan hukum adat tersebut dibagi lagi dalam beberapa bagian yang disebut Kukuban Hukum (Rechtsgouw). Lingkungan hukum adat tersebut adalah sebagai berikut :

 

https://wisatalembang.co.id/hidden-fountain-apk/