Terima Kasih Gus Dur

Terima Kasih Gus Dur

Terima Kasih Gus Dur

Terima Kasih Gus Dur
Terima Kasih Gus Dur

Pada saat gerakan mahasiswa 1998 meletus, Gus Dur dalam kondisi sakit sempat mengeluarkan statemen yang disayangkan banyak pihak. Beliau menghimbau mahasiswa untuk menahan diri di tengah maraknya aksi demonstrasi di jalan-jalan. Sebagai calon mahasiswa baru, saat itu, penulis termasuk diantara sekian banyak pihak yang kecewa terhadap statemen  Gus Dur tersebut.

Baru-baru ini ketika dihelat dialog antara pemuka lintas agama dengan pemerintah terkait “tuduhan” bahwa pemerintah telah berbohong,  posisi KH. Said Agil Siradj ( Ketua PBNU ) dianggap sebagian kalangan sebagai “ulama pro pemerintah” karena Kang Said tidak setuju dengan cara penyampaian kritik pada pemerintah oleh mereka yang mengaku sebagai pemuka agama, ulama khususnya. Kang Said menyitir QS Thohaa ayat 44 : “ maka berbicaralah kamu berdua ( Nabi Musa dan Nabi Harun ) kepadanya ( Fir’aun ) dengan kata-kata yang lemah lembut ( qoulan layyinaa), mudah-mudahan ia ingat atau takut”.Dengan filosofis Kang Said balik bertanya apakah kita sudah sebaik nabi Musa dan nabi Harun?? Apakah SBY memang seburuk Fir’aun?? Sehingga bisa berbicara seenaknya atas nama penderitaan rakyat padahal di saat yang sama mengaku pemuka agama ????

Kang Sobary dalam dialog di Metro TV mensinyalir bahwa dalam sejarah memang dikenal adanya “resi Istana” yang cenderung memberikan stempel terhadap segala kebijakan penguasa. Saat menonton tayangan tersebut penulis yakin bahwa yang dimaksud adalah Kang Said yang juga hadir dalam dialog tersebut.

Dua peristiwa diatas adalah sekelumit contoh diantara sekian banyak persentuhan NU dengan persoalan kebangsaan-keindonesiaan kita. Dari waktu ke waktu sejak zaman perjuangan-zaman kemerdekaan-orde lama-orde baru-era reformasi hingga kini NU tidak pernah absen berpartisipasi memikirkan kebaikan bersama, bukan kebaikan NU semata.

Namun ada kalanya masyarakat luas bahkan warga nahdliyyin sendiri terheran-heran dengan pola pikir petinggi NU sebagaimana penulis “sempat” dibuat bingung dengan statemen Gus Dur dan posisi Kang Said tersebut di atas. Keheranan dan kebingungan itu dilandasi oleh kesenjangan antara ekspektasi masyarakat luas dan pola pikir petinggi NU selama ini. Di saat masyarakat butuh perubahan secara drastis dan radikal NU cenderung “melemahkannya” ( kasus reformasi 1998 ). Di saat masyarakat terhimpit kesejahteraannya karena kegagalan pemerintah mengelola negara, NU cenderung “membela” pemerintah ( kasus forum lintas agama ). Di saat masyarakat modern bersepakat untuk “mengharamkan” rokok dan poligami NU cenderung “menghalalkannya”. Dengan setengah bercanda Gus Dur pernah menyatakan Kyai-kyai itu poligami karena terlalu banyak larangan. Mereka nggak mungkin pergi ke diskotik atau karaoke. Biar saja kyai poligami, buat hiburan.

Harus diakui bahwa ekspektasi masyarakat berangkat dari realitas kehidupan yang mereka alami selama ini. Namun, selain itu  peranan media dalam “menteror” pikiran masyarakat tidak boleh diabaikan. Peranan kapital dalam bisnis media sangat vital sehingga tanpa terasa ekspektasi masyarakat dengan bisa gampang diayun-ayun dari satu ujung ke ujung yang lain oleh si empunya media. Misalnya apakah relevansi deklarasi Nasional Demokrat dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini ??? Sepenting itukan Nasional Demokrat bagi Indonesia??? Apakah sejalan dengan ekspektasi masyarakat tentang perlu adanya restorasi Indonesia?? Jawabannya bisa beragam. Kecuali jika anda bertanya pada pemilik media yang punya hajatan besar di Nasional Demokrat itu.

Kenyataan ini bertolak belakang dengan pola pikir petinggi NU yang didasarkan pada spirit keulamaan ( ‘aliim, wira’i, zuhud ) dalam bingkai ahlussunnah wal jama’ah ( tasamuh, tawassuth, tawazzun, i’tidal ). Media boleh menghujat NU soal fatwa rokok karena memang tidak ada nash yang mengharamkannya secara muthlak dan  itulah kenapa banyak kyai dan santri yang masih merokok. Media boleh menghujat Gus Dur yang dianggap “melemahkan” gerakan mahasiswa 1998 namun konsistensi NU di bawah kepemimpinan Gus Dur dalam demokratisasi di Indonesia tidak bisa dibantah.  Kang Said boleh saja dianggap sebagai ulama’ istana tetapi ulama’ dimanapun dia berada harus menampakkan wajah islam yang rahmatan lil ‘alamiin, menjadi tempat berteduh yang sejuk.

Dalam konteks kebangsaan, NU tidak hanya ingin mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur namun juga sekaligus mendapatkan ampunan dari Allah SWT (baldatun thoyyibatun warabbun ghafur). NU tidak pernah melarang siswa TK menyanyikan lagu perjuangan, NU tidak pernah melarang siswa SMP untuk menghormat pada bendera saat upacara. Namun di saat yang sama NU tidak bisa dipaksa menghalalkan lokalisasi ataupun menghalalkan korupsi. Keseimbangan ini terjadi karena dimensi keselamatan, kemakmuran, kebahagiaan dan kesejahteraan yang hendak dituju tidak melulu pada kehidupan di dunia namun juga di akhirat (fid dunnya hasanah wafil akhirati hasanah).

Akhirnya, setelah 12 tahun reformasi ternyata yang pertama kali “menikmati” justru bukanlah mahasiswa aktivis demonstrasi, bukan pula rakyat yang diperjuangkan tiada henti.  Itulah kenapa, menurut saya, Gus Dur menyeru mahasiswa menahan diri di tahun 1998. Ketika Kang Said menyeru para pemuka agama/ulama untuk menahan diri di tahun 2011 saya percaya dan menunggu apa yang akan terjadi.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kickass-commandos-apk/