Keong Lacun, Ketiak, dan Wise Smoker

Keong Lacun, Ketiak, dan Wise Smoker

Keong Lacun, Ketiak, dan Wise Smoker

Keong Lacun, Ketiak, dan Wise Smoker
Keong Lacun, Ketiak, dan Wise Smoker

Hebat benar memang televisi itu. Betapa tidak, momentum kumpul-kumpul pas lebaran kemarin menorehkan memori sangat berkesan bagi saya. Di tengah kehangatan silaturahim melepas rindu, seorang kawan dengan bangga memamerkan kompetensi olah vokal anak perempuannya yang masih berusia 4 tahun. Sambil memegang mic, sang anak dengan pede memulai aksinya, “dasal kau keong lacun, balu kenal uda ngajak tidul….solly solly solly jek, ku bukan cewek mulahaaan”. Sang kawan tersenyum bangga, yang saya sambut dengan senyum di bibir sambil hati miris teriris-iris menjadi berlapis-lapis, untungnya tanpa tangis. Siapa lagi yang mengajari anak kecil itu kalau bukan televisi.

Hebat benar memang para pembuat iklan itu. Ketika ada seorang kawan yang ngantor dengan rambut baru dicukur – yang sama sekali tanpa diniati untuk menggantengkan dandanan diri – namun hanya untuk sekedar sedikit merapikan potongan, seorang kawan yang lain dengan enteng mengejeknya, “Pengen ganteng?? Ngimpiiii..!!! ”. Dugaan saya mengatakan, barangkali sang pengejek sedang dilanda penyakit hati semacam dendam, iri, atau dengki kepada  kawan berambut baru itu. Namun terkaan saya meleset, ternyata ia mengaku geli saja melihat potongan sang kawan, yang sangat mirip dengan salah seorang tokoh di iklan rokok Djarum 76. Tak ada iri dengki dendam dalam ejekan itu, semua hanya guyon penghangat perbincangan”yang penting happy” katanya. Siapa lagi yang mengajari kawan pengejek itu kalau bukan iklan di televisi.

Dan ternyata “pengajar” itu tidak hanya televisi, ledakan kemajuan teknologi melahirkan “tenaga pengajar-tenaga pengajar” yang banyak ragamnya. Dunia tempat kita bermukim kini dipenuhi oleh doktrin-doktrin tanpa papan tulis tanpa kitab. Acuan nilai kebudayaan kini ditentukan salah satunya – dan terutama – oleh televisi, yang 24 jam setiap harinya hadir di ruang tamu rumah kita, nongoldi ruang makan, methungul di depan meja belajar anak-anak kita, bahkanmenelusup di kamar paling privat rumah tangga. Televisi mengajarkan tentang baik-buruk, benar-salah, indah-ndak indah. Definisi perempuan yang cantik zaman kini tidak cukup hanya berwajah putih berhidung mancung berkulit mulus dan berambut hitam lurus, tapi juga harus memiliki kualitas ketiak yang cemerlang tanpa titik noda. Dahsyat kan??

Sebagai seorang ahlul hisab, bagi saya gambaran iklan rokok rasanya tak kalah menarik untuk ditilik. Saya mencoba untuk membaca ulang doktrin tentang rokok yang sudah berjalin kelindan menghiasi jam malam kita di depan televisi, yang diantaranya adalah bahwa :

  • Penghisap rokok ini adalah orang yang sudah mampu menemukan arti sebuah kesuksesan
  • Penghisap rokok itu adalah orang yang dalam situasi terjepit masih saja menemukan jalan keluar, sebab masih setia memainkan (menggunakan) akalnya.
  • Penghisap rokok anu adalah termasuk dalam golongan orang berkelas, bercitra eksklusif.
  • Penghisap rokok ini adalah orang yang selalu gembira hatinya, apapun situasinya, yang penting happy.
  • Penghisap rokok itu adalah orang yang solider, setia kawan, guyub, sehingga jika nggak ada dia, maka nggak rame.

Masih akan panjang deretan ini jika saya teruskan. Yang bikin saya bersyukur, sebagian besar nadanya masih positif alias masih beredar di wilayah “kebaikan” – tentu saja perdebatan kebaikan/keburukan dampak tembakau tidak saya masukkan sebagai variabel. Saya hanya mengajak Anda untuk menghayati image, citra yang sengaja ditempelkan pada produk lewat iklan – produk rokok khususnya –, yang pada tahap tertentu menyublim menjadi semacam ajakan, anjuran, bahkan doktrin kehidupan. Message yang dikirim melalui iklan secara sederhana bolehlah saya posisikan sebagai partner ulama’, pendeta, pastur dan para tokoh penganjur kebaikan, atau malah sebagai pesaing utama.

Dengan nalar pikir begini, saya bermimpi suatu saat ada iklan rokok yang tidak hanya mengiming-imingi citra kesuksesan, eksklusivisme, kelucuan, solidaritas, kekonyoloan, atau bahkan hanya sekedar keusilan-keisengan. Saya membayangkan akan ada iklan rokok yang “mendidik” perokoknya untuk menjadi orang yang BIJAK. Orang bijak itu ndak cuma taat bayar pajak lho. Orang bijak itu tahu diri, sadar akan hak-haknya, sekaligus menyadari kewajiban untuk menghormati hak orang lain.

Seorang “perokok bijak” akan memperjuangkan haknya untuk bebas menghisap asap tambakau, sekaligus menjunjung tinggi hak kawan sebelahnya untuk menghirup udara segar. So, “perokok bijak” ndak akan merokok di dalam angkutan umum, ndak akan merokok di dalam mall, ndak bakal merokok di paviliun rumah sakit. Saya membayangkan, isinya smooking room di terminal, stasiun, mall, dan bandara, adalah orang-orang yang asyik menikmati rokok sambil saling mengumbar senyum dan berbincang akrab. Selepas merokok, mereka keluar dan menyapa santun orang-orang di sekitar yang asyik merokok, lalu mempersilahkan untuk masuk smooking room. Di dalam bis umum, para perokok bijak ini menegur dengan mesra kawan-kawan untuk mematikan batang rokok yang sedang dihisap sambil berbisik “tenang bro…aku juga perokok koq”.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/strain-tactics-apk/