Imlek dan Keadilan Sosial

Imlek dan Keadilan Sosial

Imlek dan Keadilan Sosial

Imlek dan Keadilan Sosial
Imlek dan Keadilan Sosial

Teguh Rachmanto

Memang sudah diatur dalam hidup ini semua berbeda, Ada yang rendah ada menengah dan ada yang tinggi pangkatnya agar satu sama lain bisa saling memerlukan agar roda kehidupan bisa berputar – berjalan……

Bagi penggemar Bang Haji Rhoma Irama tentu hafal dengan penggalan lagu di atas. Sangat indah bila dibandingkan dengan lagu-lagu yang lagi ngetop saat ini. Namun ternyata susah sekali menerapkan prinsip yang mulia tersebut meski sudah dibalut dengan melodi yang indah.

Suatu ketika saya sedang makan siang di sebuah depot mie terkenal di Surabaya. Di sela-sela menikmati gurihnya mie pangsit yang saya pesan terlihat di sebelah kasir di ujung ruangan ada seorang waitress tertunduk ketakutan dicaci-maki oleh seorang -maaf- tionghoa. Habis-habisan si koko menelanjangi kesalahan waitress itu. Terdengar oleh saya bahwa si koko tersinggung karena tidak segera dilayani. Sebagai pelanggan tetap si koko merasa disepelekan. Saya lihat saja dari kejauhan sambil menunggu kekerasan verbal dan psikis tersebut meningkat menjadi kekerasan fisik atau tidak. Syukurlah, diamnya mbak waitress membuat si koko segera ngeloyor pergi meski terus menggerutu. Yang pasti langkah kakinya diiringi muka bersungut-sungut. Sebelum pulang saya dekati mbak waitress yang sedang shock. Wajahnya pucat pasi, matanya merah menahan jatuhnya air mata sekuat tenaga sambil memaksa diri untuk terus tersenyum. “Sabar ya, mbak!”, kataku menghibur.

Yang ini pengalaman di rumah makan lain lagi. Selera makan saya langsung hilang melihat si koko – yang lain – marah-marah. Kali ini yang dimarahi adalah pegawainya sendiri. Soalnya sepel : si pegawai lupa mematikan kipas angin. Saya tidak bisa menggambarkan betapa takutnya pegawai tersebut. Mungkin, terbayang olehnya bila dipecat maka anaknya terancam nggak minum susu, cicilan motor nggak terbayar, dan harus out dari kost-kostan bersama istri. Dia terdiam karena faham akan menanggung resiko itu meskipun saya yakin bosnya yang sedang berapi-api itu jauh lebih faham kondisi pegawainya sehingga bisa mengeluarkan seluruh kemampuan dan kosakatanya ketika marah tanpa beban.

Sebetulnya saya masih banyak pengalaman yang lain. Tapi menurut saya dua saja sudah cukup menggambarkan realitas sosial di sekitar kita. Masyarakat pribumi sejak lama menjadi bulan-bulanan warga tionghoa. Umumnya yang disebut pertama bekerja sebagai karyawan, buruh, kuli hingga pembantu bagi yang disebut terakhir. “Memang apa yang salah jika pelanggan complain pada waitress bila kurang puas dengan pelayanannya? Adakah kekeliruan bila majikan memarahi buruhnya yang bekerja asal-asalan ???” Tentu tidak yang salah dengan itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kelangsungan kehidupan sosial kita akan ditentukan oleh adanya sikap saling menghormati, saling membutuhkan, saling bekerja sama, saling menguntungkan satu sama lain. Complain boleh tapi harus proporsional, marah juga boleh tapi harus profesional. Tidak boleh ada perendahan martabat manusia lain meskipun hanya dalam fikiran. Kepingin saja tidak boleh apalagi diimplementasikan. Intinya, saya justru ingin balik bertanya, “Apa sih susahnya memperlakukan manusia sebagaimana mestinya?”.

Kalau pertanyaan ini masih susah dicerna, saya akan mengambil contoh perayaan imlek yang dinikmati warga tionghoa di seluruh Indonesia. Adalah Gus Dur yang membuka kran kebebasan berekspresi bagi warga tionghoa. Setelah dibelenggu puluhan tahun oleh rezim Soeharto, akhirnya warga tionghoa bisa menunjukkan jati diri mereka. Ajaran kong hu cu diperbolehkan, tarian barongsai semakin diterima di tengah-tengah masyarakat, dan puncaknya hari raya Imlek diperingati sebagai hari libur nasional. Gus Dur mengajarkan kita untuk mengakui adanya keaneka ragaman etnis, budaya, dan agama di sekitar kita dengan disertai keharusan untuk memberi kebebasan bagi setiap warga negara berekpresi sesuai dengan latar belakangnya masing-masing. Indah, bukan ???? Prinsip itulah yang diajarkan sekaligus diperjuangkan di hadapan seluruh pengikut Gus Dur dan seluruh rakyat Indonesia.

Sungguh amatlah tidak tau diuntung bila warga tionghoa masih mempraktikkan arogansinya dalam pergaulan sehari-hari dengan masyarakat lain terutama masyarakat pribumi yang kebetulan jadi buruhnya, pegawainya, pembantunya, satpamnya, tukang kebunnya, dst. Lebih-lebih jika yang dicaci maki dan direndahkan adalah warga NU, pengikut Gus Dur…

Baca Juga :