MOTIVASI MANAJEMEN LABA

MOTIVASI MANAJEMEN LABA

MOTIVASI MANAJEMEN LABA

MOTIVASI MANAJEMEN LABA
MOTIVASI MANAJEMEN LABA
Ada berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya manajemen laba yang termasuk dalam Positive Accounting Theory (PAT) atau teori akunting positif yang mengemukakan tiga hipotesis motif dilakukannya manajemen laba, yaitu bonus plan, debt covenant, political cost hypothesis. Teori akunting positif berkaitan dengan memprediksi tindakan yang dilakukan manajer perusahaan dalam merespon standar-standar akunting baru. PAT tidak berarti pilihan kebijakan akuntansi satu perusahaan harus terbatas namun malah memberikan banyak pilihan. Selain ketiga hipotesis tersebut terdapat juga beberapa motivasi lain melakukan manajemen laba:
a. Hipotesis program bonus (the bonus plan hypothesis)
Hipotesis ini dipilih karena manajer ingin melaporkan laba yang akan datang menjadi laba periode ini. Motivasi manajer yang menerapkan hipotesis ini biasanya mengharapkan bonus yang tinggi.Jika bonus mereka bergantung pada laba yang dilaporkan maka mereka bisa melaporkan laba bersih yang setinggi-tingginya. Tentu saja sesuai dengan proses akrual ini juga berarti laba yang akan datang menjadi makin kecil.
b. Hipotesis perjanjian hutang (the debt covenant hypothesis)
Semakin dekat suatu perusahaan dalam melanggar perjanjian utang maka semakin mungkin manajer perusahaan untuk menggeser laba yang akan datang menjadi laba di periode ini. Alasannya adalah peningkatan laba bersih yang dilaporkan akan mengurangi terjadinya keteledoran teknis. Perjanjian utang banyak mengandung covenants yang mana harus dipatuhi oleh peminjam selama masa perjanjian.Semakin tinggi rasio hutang/ekuitas suatu perusahaan yang ekuivalen dengan semakin dekatnya perusahaan terhadap kendala-kendala dalam perjanjian hutang dan semakin besar probabilitas pelanggaran perjanjian, semakin mungkin manajer untuk menggunakan metode-metode akuntansi yang meningkatkan income.
c. Hipotesis biaya politik (the political cost hypothesis)
Motivasi regulasi politik merupakan motivasi manajemen dalam mensiasati berbagai regulasi pemerintah.Perusahaan yang terbukti menjalankan praktik pelanggaran terhadap regulasi anti trust dan anti monopoli, manajernya melakukan manipulasi laba dengan menurunkan laba yang dilaporkan.Perusahaan juga melakukan manajemen laba dengan tujuan untuk mempengaruhi keputusan pengadilan terhadap perusahaan yang mengalami damage award.Selain itu, PPh juga merupakan motivasi dalam manajemen laba. Pemilihan metode akuntansi dalam pelaporan laba akan memberikan hasil yang berbeda terhadap laba yang dipakai sebagai dasar perhitungan pajak.
d. Motivasi pajak (taxation motivation)
Salah satu insentif yang dapat memicu manajer untuk melakukan rekayasa labaadalah untuk meminimalkan pajak atau total pajak yang harus dibayarkan perusahaan.
e. Pergantian CEO (retirement of executive officer)
Banyak motivasi yang muncul saat terjadi pergantian CEO. Salah satunya adalah pemaksimalan laba untuk meningkatkan bonus pada saat CEO mendekati masa pensiun.
f. IPO (initial public offering)
Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan harga pasar, sehingga terdapatmasalah bagaimana menetapkan nilai saham yang ditawarkan. Oleh karena itu, informasilaba bersih dapat digunakan sebagai sinyal kepada calon investor tentang nilai.
Manajemen mengemukakan beberapa tujuan dilakukannya earnings management, diantaranya adalah untuk memenuhi masing-masing tujuan dan kepentingan dalam rangka menjalankan kegiatan bisnisnya, yaitu:
  1. Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap manajer. Manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat perolehan laba atau prestasi usaha suatu organisasi, hal ini karena tingkat keuntungan atau laba dikaitka n dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan diterima oleh manajer.
  2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor. Perusahaan yang terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran utang pada waktunya, perusahaan berusaha menghindarinya dengan membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba. Dengan demikian akan memberi posisi bargaining yang relatif baik dalam negoisasi atau penjadwalan ulang utang antara pihak kreditor dengan perusahaan.
  3. Manajemen laba dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya terutama pada perusahaan go publik pada saat IPO.

Baca Juga :