MANAJEMEN LABA

MANAJEMEN LABA

MANAJEMEN LABA

MANAJEMEN LABA
MANAJEMEN LABA
Perbedaan yang sangat tipis antara manajemen laba dengan fraud membuat batasan dan defenisi dari manajemen laba itu sendiri menjadi tidak jelas. Pihak yang concern dengan hal ini mencoba mendefenisikannya, baik dari pemahaman positif dan negatif. Ada pihak yang mendefenisikan manajemen laba sebagai kecurangan yang dilakukan seorang manajer untuk mengelabui orang lain, sedangkan pihak lain mendefenisikannya sebagai aktivitas yang wajar yang dilakukan manajer dalam menyusun laporan keuangan.
Secara umum manajemen laba didefenisikan sebagai upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi yang sebenarnya. Istilah intervensi dan mengelabui inilah yang kemudian diartikan sebagai kecurangan dalam hal praktek manajemen laba. Sementara pihak lain tetap menganggap aktivitas manajerial ini bukan sebagai kecurangan. Alasannya adalah intervensi itu dilakukan masih dalam kerangka standar akuntansi, yaitu masih menggunakan metode dan prosedur akuntansi yang diterima dan diakui secara umum. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen laba berada dalam daerah abu-abu (grey area) antara aktivitas yang diijinkan prinsip akuntansi dan kecurangan. Apalagi pada dasarnya manajemen laba sulit untuk diobservasi oleh pemakai laporan keuangan.
Manajemen laba didefenisikan sebagai upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi yang sebenarnya. Manajemen laba merupakan sesuatu yang diperbolehkan sepanjang dilakukan sesuai dengan metode dan prosedur akuntansi yang diperbolehkan. Sementara apabila ada manajer melakukan manajemen laba dengan sesuatu yang melanggar metode dan prosedur akuntansi, maka hal yang demikian dapat dikategorikan sebagai “fraud”. Pola manajemen laba dibagi 4, yaitu:
  • Taking a bath: pola ini dapat ditemukan saat terjadinya reorganisasi. Jika perusahaan harus melaporkan adanya rugi, maka sekalian saja perusahaan melaporkan adanya rugi yang sangat besar. Konsekuensinya adalah penghapusan asset, menyediakan untuk biaya di masa depan dan secara umum “pembersihan”. Karena accruals reversal, maka ini akan meningkatkan kemungkinan adanya profit di masa yang akan datang. Efeknya, pencatatan penghapusan yang besar bisa menggaransi adanya laba di masa depan.
  • Income minimization: biasanya pola ini dilakukan pada masa-masa laba yang didapat sedang tinggi. Pola ini mencakup penghapusan capital assets dan intangibles, biaya periklanan, biaya R&D, biaya eksplorasi pada sektor migas dan lain-lain.
  • Income maximization: berdasarkan positive accounting theory (PTA), manajer bisa terlibat dalam menaikkan pemasukan dengan tujuan bonus. Perusahaan yang melanggar debt covenant juga biasanya menaikkan laba mereka.
  • Income smoothing: dari perspektif yang berlawanan, manajer menghindari resiko dengan cara memilih alternatif bonus yang tidak terlalu bervariasi. Akibatnya, manajer meratakan laba supaya mendapatkan bonus yang terus-menerus.

Sumber : https://ekonomija.org/