Akuntansi, Alat Perekaciptaan

Akuntansi, Alat Perekaciptaan

Akuntansi, Alat Perekaciptaan

Akuntansi, Alat Perekaciptaan
Akuntansi, Alat Perekaciptaan

Hahahaha… Saya tertawa melihat liputan mengenai hasil penerapan PSAK 50-55 di berita. Ini merupakan bukti bahwa akuntansi itu memang alat perekaciptaan (engineering) informasi & hanya masalah angka saja. Sudah sedemikian lama saya mendengarkan pakar-pakar akuntansi dan pihak terkait lainnya yang membahas bahwa akuntansi itu seperti ini, dan penerapan IFRS membuktikan pernyataan mereka. Walaupun tujuan utama akuntansi adalah memberikan informasi yang andal untuk pengambilan keputusan, tapi pada kenyataannya, akuntansi itu hanya masalah main-main angka saja.

Pada contoh penerapan PSAK 50-55 yang ada di berita, disebutkan bahwa laba bank meningkat cukup tajam setelah menerapkan PSAK 50-55 tersebut. Hal ini dikarenakan perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sekarang didasarkan pada data historis, bukan lagi pada perkiraan probabilitas masa depan. Hasilnya, beban pencadangan menurun dan laba meningkat. Silakan baca lebih lengkap dalam berita berikut ini (klik gambar untuk mengunduh versi ukuran lebih besar):

Jika dilihat secara nyata, peningkatan laba ini bukan berasal dari peningkatan kinerja, tetapi hanya berasal dari perubahan estimasi dan alokasi pos saja. Namun, perekaciptaan akuntansi dapat membuat kinerja bank meningkat secara kertas (pelaporan akuntansi), bukan secara nyata.

Bukti lain bahwa akuntansi merupakan alat perekaciptaan informasi dan hanya masalah angka-angka saja terlihat dari hasil penelitian yang dikeluarkan oleh The Institute of Chartered Accountants of Scotland (Charles Elad & Kathleen Herbohn). Penelitian yang baru keluar ini (Januari 2011) berisi temuan-temuan empiris mengenai penerapan IAS 41: Agriculture di Inggris, Perancis, dan Australia. Hasil penelitian tersebut menyarankan IASB (International Accounting Standards Board) untuk mengkaji ulang metode dan konsep akuntansi yang digunakan. Jika anda telah membaca IAS 41 (jika belum, silakan baca ringkasan yang telah saya buat di tulisan sebelumnya, atau baca di iasplus), nilai wajar digunakan sebagai dasar pengukuran setelah pengukuran awal. Dengan ketentuan bahwa selisih revaluasi diakui langsung di laporan laba rugi. Padahal, selisih revaluasi ini belum terealisasi, dan untuk pos seperti aset tetap, diakui di pendapatan komprehensif lain (bahasa gaulnya OCI) sebelum terealisasi dan setelah terealisasi baru diakui di laba rugi. Walhasil, penerapan IAS 41 mengakibatkan perusahaan-perusahaan agrikultur memiliki kinerja yang bagus. Padahal, kinerja ini didongkrak dari hasil perhitungan nilai wajar yang mana selisihnya belum terealisasi.

Sumber : https://uberant.com/article/624633-dosenpendidikan-introduces-high-school-study-materials-on-their-website/