Berry, Berlari Sejauh 169 Kilometer Demi Pendidikan Disabilitas

Berry, Berlari Sejauh 169 Kilometer Demi Pendidikan Disabilitas

Berry, Berlari Sejauh 169 Kilometer Demi Pendidikan Disabilitas

Berry, Berlari Sejauh 169 Kilometer Demi Pendidikan Disabilitas
Berry, Berlari Sejauh 169 Kilometer Demi Pendidikan Disabilitas

Penyandang disabilitas terkadang belum mendapatkan perhatian yang baik

. Padahal, mereka yang menyandang status disabilitas adalah orang yang berhak menjalani hidup seperti manusia normal lainnya. Pengakuan hak terhadap disabilitas saat ini dapat dikatakan masih kurang, bahkan di sebagian daerah, penyandang disabilitas justru tidak mendapatkan hak-hak mereka.

Salah satu hak yang harus didapatkan oleh penyandang disabilitas adalah pendidikan. Pendidikan menjadi sebuah keharusan yang diberikan kepada penyandang disabilitas supaya dapat menikmati kesetaraan kehidupan seperti masyarakat normal lainnya.

Untuk itu, Berry Salasa, Founder komunitas lari The Bearded Runners, terketuk hatinya untuk ambil bagian dalam kegiatan charity yang bernama Nusantarun. Sebuah kegiatan yang bertujuan menggalang dana untuk pendidikan anak-anak disabilitas dengan cara berlari sejauh ratusan kilometer.

“Saya sebagai salah satu fundraiser dan pelari, berusaha mengajak sekaligus

mengkampanyekan kepada masyarakat supaya ikut berdonasi dan membantu pendidikan anak-anak disabilitas,” tutur alumni Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB).

Tahun ini menjadi tahun keenam dalam penyelenggaraan kegiatan Nusantarun. Nusantarun kali ini berlangsung selama tiga hari, dimulai pada tanggal 7 Desember dan berakhir pada tanggal 9 Desember 2018. Garis start dimulai dari Wonosobo, Dieng dan garis finish berada di Gunung Kidul, Yogyakarta. Terdapat dua kategori lari yaitu kategori half dengan jarak 85 kilometer dan kategori full dengan jarak lintasan 169 kilometer.

Berry mengaku bahwa untuk berlari sepanjang 169 kilometer perlu persiapan

dan latihan yang matang. Sebelum hari pelaksanaan Nusantarun dimulai, Berry harus berlatih lari minimal tiga kali sehari selama tiga puluh menit setiap sesi. Latihan tersebut ia lakukan selama lima hari, sejak hari Senin sampai Jumat. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu, ia gunakan untuk berlatih lari jarak jauh dengan jarak 20 kilometer per hari. Program latihan ini dilakukan selama dua bulan berturut-turut.

“Kami melakukan semua ini supaya masyarakat tergerak hatinya untuk ikut berdonasi. Di sisi lain, kami berusaha memberikan dampak yang luas agar sebanyak mungkin orang-orang bisa ikut berkontribusi melalui gerakan-gerakan sosial yang kami lakukan,” tambah Berry.

Terhitung sampai tanggal 18 Desember 2018, donasi yang sudah terkumpul sebanyak 2,4 miliar rupiah. Hasil tersebut hampir memenuhi target donasi, yaitu sebesar 2,5 miliar rupiah. Meskipun hampir mencapai target, pengumpulan donasi masih dibuka sampai tanggal 11 Januari 2019.

Menurut Berry, dari fakta yang ada, penyandang disabilitas di Indonesia jumlahnya hampir 30 juta orang atau sekitar 12,5 persen dari jumlah penduduk di Indonesia.

Penyandang disabilitas yang mengenyam bangku sekolah dasar ke atas hanya 54,26 persen dan sisanya, yakni 45,74 persen tidak pernah mengenyam pendidikan SD. Sedangkan di dunia kerja, hanya 51,2 persen penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam pasar kerja.

“Untuk memajukan pendidikan disabilitas, event ini menggandeng Kampus Guru Cikal sehingga dapat bersama-sama memberikan hak akses pendidikan kepada disabilitas. Semua pihak harus berusaha supaya pendidikan itu bisa dirasakan oleh semua kalangan. Tidak hanya itu, kita juga harus memberikan kesempatan yang sama kepada penyandang disabilitas supaya dapat berkembang dan berkarya bersama-sama,” pungkas Berry.

 

Baca Juga :