Menolak Jabatan Hakim

Menolak Jabatan Hakim

Pada jaman pemerintahan Harun Ar-Rasyid hiduplah seorang tokoh penghafal Al-Qur’an, ahli ibadah, dan meriwayatkan banyak hadis yang dijadikan acuan para ulama.

Dia bernama Abdullah bin Idris Al-Kaudi Al-Kufi atau kondang bersama nama Abdullah bin Idris. Dia mempunyai kemuliaan melebih para raja, hidup didalam kesederhanaan, dan menjadi suri teladan bagi semua orang.

Suatu hari Harun Ar-Rasyid memanggilnya. la pun bertanya kepada Ibnu Idris, “Tahukah kamu mengapa aku memanggilmu?”

“Tidak,” jawab Ibnu Idris singkat.

Harun menjelaskan, “Penduduk negeri ini memintamu menjadi hakim bagi mereka. Namamu disebut mereka di antara nama-nama lain. Setelah aku mempertimbangkannya, aku setuju untuk memercayakan jabatan itu kepadamu demi kemaslahatan umat. Bersumpahlah dan melakukan tugasmu sebagaimana mestinya!”

Ibnu Idris menolak tawaran berikut bersama berkata, “Aku bukanlah orang yang sesuai untuk jabatan tersebut.”

Jawaban itu menyebabkan Harun Ar-Rasyid kecewa dan marah. la pun berseru kepada Ibnu Idris, “Seandainya aku tidak memanggilmu!”

Ibnu Idris juga membalas, “Ya, kalau aku tidak memenuhi panggilanmu!” katanya sambil meninggalkan Harun Ar-Rasyid di ruangannya.

Harun kaget lihat reaksi Ibnu Idris yang meninggalkannya begitu saja. Sebagai ungkapan penyesalan, ia langsung memanggil pengawalnya agar menyusul Ibnu Idris untuk mengimbuhkan bekal perjalanan sebesar lima puluh ribu dirham.

Pengawal itu bersama sigap mengejar dia, selanjutnya menyampaikan pesan raja kepadanya, “Amirul Mukminin menyampaikan salam kepadamu dan mengimbuhkan duwit ini sebagai bekal perjalananmu!” Namun, Ibnu Idris menolaknya bersama tegas.

Mengetahui niat baiknya ditolak, Harun mengirim surat kepadanya yang isinya, “Semoga Allah memaafkan kita. Kami memintamu untuk masuk ke didalam amal kami, namun engkau tidak mau. Lalu, kita kirimkan beberapa duwit kita kepadamu, namun engkau tidak menerimanya. Jika anakku yang bernama Al-Ma’mun berkunjung kepadamu, ajarilah dia hadis, insya Allah.”

Setelah membaca surat itu, Ibnu Idris bicara kepada pengawal Harun, “Jika dia berkunjung kepada kita bersama-sama, dapat aku riwayatkan hadis kepadanya, insya Allah.”

Dengan kebesaran hati Ibnu Idris tersebut, selesailah pertikaian di antara mereka.

Banyak ulama yang jauhi kedudukan dan kekuasaan, antara lain sebagai berikut:
Manshur bin Al-Mu’tamir As-Sulami menolak untuk diangkat sebagai seorang hakim. Dikirimlah serombongan pasukan untuk memaksanya. Kepada Yusuf bin Umar komandan pasukan berikut dikatakan, “Walaupun engkau koyak kulit tubuhku, aku tidak dapat rela untuk menerima tawaran tersebut.” Kemudian Manshur pun ditinggalkan.
Abu Qilabah Al-Jarmi, keliru seorang tabiin, lari meninggalkan negerinya berasal dari Bashrah sampai daerah Yamamah dan meninggal di sana. Beliau lari untuk jauhi tawaran menjadi seorang hakim. Ayyub As-Sikhtiyani pernah menemuinya dan bertanya perihal alasan beliau untuk lari menghindar. Abu Qilabah menjawab, “Aku tidak lihat sebuah perumpamaan yang tepat untuk seorang hakim, terkecuali seseorang yang tercebur di didalam lautan yang luas, sampai kapan dia dapat mampu berenang? Pasti dia dapat tenggelam.”
Abdullah bin Wahb bin Muslim Al-Qurasyi ketika menolak untuk diangkat menjadi seorang hakim, beliau bicara kepada seseorang yang bertanya karena penolakannya, “Apakah engkau tidak tahu bahwa para ulama dapat disatuka terhadap hari kiamat bersama para nabi? Sementara itu, para hakim dapat disatuka bersama para penguasa.”
Al-Mughirah bin Abdillah Al-Yasykuri menolak keinginan Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menjadi seorang hakim. Beliau beralasan, “Sungguh demi Allah, wahai Amirul Mukminin, aku lebih pilih dicekik setan daripada perlu memegang kedudukan sebagai hakim!” Ar-Rasyid, selanjutnya berkata, “Tidak tersedia ulang keinginan tak hanya itu.” Kemudian Harun Ar-Rasyid pun mengabulkan permintaannya.
Al-lmam Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Amirul Mukminin memaksa Sufyan Ats-Tsauri untuk memegang kedudukan sebagai hakim. Sufyan pun berpura-pura menjadi orang bodoh agar terbebas. Setelah Amirul Mukminin tahu hal tersebut, Sufyan pun dibebaskan, selanjutnya ia melarikan diri.”

Sumber : https://tokoh.co.id/

baca juga :