Rumah Adat Bengkulu

Rumah Tradisional Bengkulu – Warisan arsitektur Indonesia sangat beragam, unik dan memiliki filosofi masing-masing. Salah satu aset arsitektur tradisional Indonesia adalah rumah tradisional yang berasal dari provinsi yang terletak di barat daya Pulau Sumatera.

Rumah tradisional Bengkulu disebut “Bumbungan Tinggi”, tetapi orang-orang Bengkulu lebih sering disebut “Bubungan Lima”, secara umum bangunan tradisional Bengkulu adalah hunian yang ditopang oleh banyak tiang.

Nama “Bubungan Lima” diambil dari bentuk atap rumah. Selain “Bubungan Lima”, rumah tradisional Bengkulu juga sering dikenal sebagai “Bubungan Haji”, “Bubungan Limas” dan juga “Bubungan Jembatan”.

Rumah unik dan indah di tanah Raflesia ini sangat menarik untuk dipelajari, mulai dari struktur bangunannya yang unik, filosofinya, hingga fungsi bangunannya.

Rumah Adat Bengkulu

Struktur bangunan rumah Lima bungan
1. Bagian atas
2. Bagian tengah
3. Dana
Filosofi dan ciri khas rumah Bungan Lima
Komposisi dan fungsi rumah lima arah
Struktur bangunan rumah Lima bungan
Rumah tradisional Bengkulu

Provinsi Bengkulu adalah daerah yang terletak di jalur gempa, sehingga desain tradisional rumah Bengkulu memadai untuk kondisi ini. Rumah Bubungan Lima adalah rumah panggung dan dirancang untuk tahan terhadap guncangan gempa.

Desain seismik ini dapat diamati dengan keberadaan 15 kutub dengan ketinggian yang mencapai 1,8 meter. Tiang-tiang penyangga ditumpangkan di atas batu datar besar. Fungsi batu pipih ini adalah untuk mengurangi guncangan seismik. Selanjutnya, penggunaan batu pipih juga berfungsi untuk mencegah pembusukan tiang.

Umumnya rumah tahan gempa yang indah ini terbuat dari kayu kuning atau dikenal sebagai kayu balam. Karakter kayu balam yang fleksibel tetapi telah bertahan selama ratusan tahun menjadikan kayu ini dipilih sebagai bahan utama rumah.

Rumah Adat Papua
Lantai rumah terbuat dari papan yang telah dicukur tanpa masalah. Atap rumah Bubung Lima terbuat dari telapak tangan atau ubin. Di bagian depan rumah ada tangga. Jumlah operan harus selalu ganjil, ini terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat. Secara umum, struktur Rumah Bubungan Lima terbagi menjadi:

1. Bagian atas
Bagian atas rumah Bubungan Lima adalah atap ijuk atau bambu. Namun, dalam perkembangannya banyak juga menggunakan seng sebagai atap. Pecu atau pelapon rumah ini terbuat dari papan tetapi ada juga yang menggunakan bambu. Blok kayu yang menghubungkan bagian atas dengan rumah disebut peran. Balok yang terpasang pada kap berfungsi seperti dudukan atap.

2. Bagian tengah
Di tengah bangunan ini ada bingkai atau bingkai rumah balam. Dindingnya terbuat dari papan atau ada yang lega. Jendela memiliki bentuk ram atau normal. Tulusi atau lubang angin umumnya ditemukan di bagian atas jendela atau pintu.

Pilar sudut, pilar sudut dan tiang tengah. Ada juga bendungan atau balok yang memanjang di sepanjang dinding yang menghubungkan sudut-sudut rumah.

3. Dana
Di bagian bawah rumah Bungan Lima ada lagi yang terbuat dari papan, lembar data dan bilah bambu. Kerangka terdiri dari 8 panel gelap dengan lebar 50 cm, dipasang di sepanjang dinding luar balok.

Batu nisan, adalah balok atap yang terletak di tepi luar sepanjang dinding rumah. Tilan, yang merupakan balok berukuran sedang yang berfungsi sebagai tempat untuk menempelkan lantai. Di lantai kayu ada juga Bidani yang terbuat dari bambu tebal yang diposisikan secara melintang di lantai kayu.

Rumah tradisional Batak
Fungsinya untuk menahan serangan musuh atau binatang buas dari bawah rumah. Teras ruangan, sejajar dengan meja lantai. Tiang alas yang merupakan batu pipih sebagai alas masing-masing tiang rumah. Tangga depan dan tangga depan dengan jumlah tangga ganjil.

Filosofi dan ciri khas rumah Bungan Lima
Rumah tradisional Bengkulu
Ada beberapa fitur yang membedakan rumah tradisional Bengkulu dari rumah tradisional di daerah lain di Indonesia. Salah satunya adalah atap berbentuk limas dengan ketinggian hingga 3,5 meter.

Selain itu, jumlah kutub yang berfungsi sebagai pembangun untuk mengurangi guncangan seismik juga meningkatkan karakter rumah tradisional Bengkulu. Tangga, yang terletak di bagian depan gedung dengan jumlah tangga ganjil, semakin menggarisbawahi fitur khas rumah Bubungan Lima.

Selama proses mengangkat puncak rumah ada juga tradisi yang unik. Ritual biasanya dilakukan dengan cara menggantung

Sumber : santinorice.com