Joko Widodo Karakter Pemimpin Masa Kini dan Masa Datang

Joko Widodo Karakter Pemimpin Masa Kini dan Masa Datang

Joko Widodo Karakter Pemimpin Masa Kini dan Masa Datang

Joko Widodo Karakter Pemimpin Masa Kini dan Masa Datang
Joko Widodo Karakter Pemimpin Masa Kini dan Masa Datang

Menurut Almond dan powell

Orientasi individu terhadap sistem politik dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu orientasi kognitif, afektif, dan evaluative. Orientasi kognitif meliputi berbagai pengetahuan dan keyakinan tentang sistem politik. Misalnya, pengetahuan seseorang mengenai sistem politik, tokoh-tokoh pemerintahan, kebijakan yang mereka ambil, syimbol-syimbol yang dimiliki oleh sistem politiknya secara keseluruhan seperti, ibukota Negara, lambang Negara, kepala Negara, batas Negara, mata uang, dll. Orientasi afektif menunjuk pada aspek perasaan atau ikatan emosional seorang individu terhadap pemimpin atau sistem politik, sehingga seorang dapat menerima atau menolak sistem politik tertentu atau mengidolakan tokoh tertentu. Sedangkan Orientasi evaluative yaitu penilaian moral seseorang terhadap sistem politik atau pemimpin yang telah mereka pilih terhadap kinerja atau janji politik saat berkampanye dengan menggunakan informasi dan perasaan tentang kinerja suatu sistem politik serta penilaian didasarkan pada norma-norma yang dianut dan sepakati bersama.

 

Bersama Rakyat DKI

Sosok Joko Widodo sang gubernur DKI Jakarta ini telah mendapatkan dan memiliki ketiga orientasi tersebut dari warga Jakarta, dengan kata lain telah merebut dan mempesonakan hati para warga ibu kota. Jokowi wajar mendapatkan simpati warganya disebabkan Joko Widodo tidak memiliki jarak dengan rakyat kecil sekalipun. Hal ini terbukti dengan kunjungan beliau ke daerah kumuh, para warga miskin bahkan pada malam hari sekalipun, ia suka di lapangan untuk mengawal pembangunan untuk melihat keadaan dan pembangunan yang sedang dikerjakan dari pada di kantor .

 

Sifat-sifat seperti ini sangat jarang dimiliki pemimpin

Di negeri Indonesia ini. Sosok yang sederhana, tegas, suka memecat bawahannya bila tidak mau bekerja untuk rakyat, suka humoris dan metal. Disamping itu Gubernur Joko Widodo ini tidak sekedar mengumbar janji kampanye namun langsung di laksanakan sesuai dengan skala prioritas mana kepentingan rakyat yang harus lebih dulu dilaksanakan atau dieksekusi (istilah Beliau) maka segera direalisasikan. Contoh pada saat kampanye Jokowi menjanjikan kartu Jakarta Pintar maka setelah menjabat alangsung direalisasikan dengan membagikan ribuan kartu Jakarta Pintar (laksana ATM) untuk biaya pendidikan warga miskin di DKI. Jumlah dana pendidikan per siswa kurang mampu adalah Rp 240.000 per bulan, inipun sisa anggaran periode sebelumnya.

 

Makan di Warteg

Apabila pemimpin itu dekat dan selalu mementingkan kepentingan rakyat, maka Insya Allah dicintai rakyatnya. Bila sudah dicintai rakyatnya maka akan tetap dirindukan untuk menjadi pemimpin rakyat tersebut untuk periode berikutnya. MAKA tidak perlu berkampanye Joko Widodomacam-macam dengan mengumbar janji sebab rakyat sudah pintar. Rakyat yang pintar berkata daripada memilih sosok yang lain yang belum tentu memmperhatikan rakyat lebih baik pilih yang sudah terbukti kepemimpinannya. Sesuai pepatah ” Lebih baik memilih telur di tangan daripada ayam tapi masih di awang-awang.

Banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan sang Gubernur apalagi di ibukota dengan bergudang-gudang masalah mulai sampah, banjir, macet, kejahatan.

Selamat bertugas pak Joko Widodo, sosok anda akan menjadi inspirasi kami dan pemimpin negeri ini yang lainnya.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/